PENDIDIKAN KARAKTER SISWA DI ERA MILENIAL
Akhir-akhir ini kita sering mendengar kata generasi milenial, Apa sih generasi milenial itu? Generasi milenial adalah generasi yang menggantikan generasi Y atau kelompok demografis, yaitu orang yang lahir pada kisaran tahun 1980- 2000an. Maka ini berarti millenials adalah generasi yang berumur 17- 37 pada tahun ini. Millennials sendiri dianggap spesial karena generasi ini sangat berbeda dengan generasi sebelumnya, apalagi dalam hal yang berkaitan dengan teknologi.
Generasi millennials memiliki ciri khas tersendiri yaitu, mereka lahir pada saat TV berwarna,handphone juga internet sudah diperkenalkan. Sehingga generasi ini sangat mahir dalam teknologi. Jika kita melihat ke dunia sosial media, generasi millennials sangat mendominasi jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Dengan kemampuannya di dunia teknologi dan sarana yang ada, generasi millenials belum banyak yang sadar akan kesempatan dan peluang di depan mereka. Generasi millennials cenderung lebih tidak peduli terhadap keadaan sosial di sekitar mereka seperti dunia politik ataupun perkembangan ekonomi Indonesia. Kebanyakan dari generasi millenials hanya peduli untuk membanggakan pola hidup kebebasan dan hedonisme. Memiliki visi yang tidak realistis dan terlalu idealistis, yang penting bisa gaya.
Akhir-akhir ini generasi kita banyak diperbincangkan, mulai dari segi pendidikan, moral & budaya, etika kerja, ketahanan mental dan penggunaan teknologi. Semua itu karena generasi kita sangat jauh berbeda dari generasi sebelumnya, para senior-senior kita ini tampaknya mulai kerepotan menghadapi serbuan kita, para Millenials.
Sejalan dengan itu, banyak fakta dan mitos yang beredar tentang generasi Millennial, tidak semuanya benar dan tidak sepenuhnya salah. Selain mitos, generasi yang lebih tua sering mencap para millennials dengan stereotype yang sama, yaitu malas dan narsis!
Millennials dinilai cenderung cuek pada keadaan sosial, mengejar kebanggaan akan merk/brand tertentu padahal orangtuanya makan dua kali sehari saja sudah bersyukur. Pulang kuliah/ kerja nongkrong di Starbucks, padahal di kosan hanya makan mie instan.
Cuek juga terhadap perkembangan politik dan ekonomi, setiap pemilu cenderung golput. Cenderung meninggalkan nilai-nilai budaya dan agama, mengejar nilai-nilai kebebasan, hedonisme, party dan pergaulan bebas.
Generasi kita juga dikenal cenderung idealis, terlampau optimis dan tidak realistis. Saat terbentur masalah cenderung berpikir pendek, cari jalan pintas dan lari dari kenyataan sambil bernyanyi “lumpuhkanlah ingatanku...”
Generasi milenial sangat butuh adanya pendidikan moral atau karakter yang diberikan di pendidikan formal maupun non formal. Di pendidikan formal, siswa sejak SD sudah harus diberikan pemahaman dan contoh yang baik dari gurunya, khususnya Guru Agama dan Guru PPKn. Yang lebih penting sebenarnya adalah di pendidikan non formal, yaitu keluarga dan lingungan masyarakat. Keluarga sebagai pondasi akhlak dan karakter bagi anak-anak, kemudian lingkungan masyarakat sebagai laboratorium kehidupan yang sesungguahnya bagi anak tersebut.
Saat ini banyak dari generasi yang menjadi korban dari "keganasan" media sosial. Smartphone sebagai pintu gerbang menuju dunia, telah disalahgunakan sebagai alat untuk melakukan tindakan-tindakan yang melanggar norma. Bagi generasi milenial, media sosial sudah seperti buku diarinya.
Tidak ada lagi rasa malu untuk mengunggah foto-foto atau tulisan yang privasi sekalipun. Hal buruknya adalah keadaan itu akan dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Maka tak heran terjadi kasus pelecehan seksual yang bermula dari media sosial, penculikan yang berkedok hubungan asmara, hingga peredaran narkoba melalui jejaring media sosial, dan masih ada kasus-kasus yang lainnya.
Untuk meminimalisasi dan memperkecil, bahkan menghilangkan krisis multidimensional, terutama perilaku tak bermoral yang meluas di masyarakat, kita perlu menata konsep pendidikan nasional. Dalam menjamin pendidikan nasional yang mantap, perlu dijaga konsistensi pendidikan karakter sejak dari landasan filosofis, sistem pendidikan, sampai dengan praktik pendidikan. Tujuan pendidikan tidak hanya menjadikan insan berakal, insan kompeten dan berguna, dan insan yang bertakwa, melainkan insan yang utuh
Keberadaan media berbasis online turut berpengaruh dalam perubahan pandangan hidup dan perilaku siswa peserta didik dan generasi muda pada umumnya. Melansir dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2016 pengguna internet di tanah air didominasi oleh generasi muda. Media sosial menjadi konten internet yang paling sering diakses mencapai presentase 97,4 persen. Khusus kalangan pelajar di Indonesia dengan kelompok usia 10-14 tahun mencapai 100 persen dengan jumlah 768 ribu.
Generasi milenial yang diwakili oleh kids jaman now menjadi jargon sekaligus representasi dari identitas yang tidak lepas dari media berbasis online. Ketika media sosial menjadi konsumsi sehari-hari tanpa adanya filter dan batas yang jelas terhadap paparan berita yang simpang siur, kontroversi dan ujaran kebencian menjadikan anak dan remaja menjadi pihak yang rentan.
Keluarga, sekolah dan masyarakat adalah ruang utama pembentukan karakter dan moral anak dan remaja. Dinamika jaman mengubah pola asuh keluarga dan pengawasan masyarakat, Permainan anak tradisional yang mengajarkan sportivitas dan harmoni dengan alam diganti dengan game dan permainan berbasis daring yang menutup kesempatan berinteraksi dengan dunia nyata. Permainan pada anak dan remaja memberikan pengalaman yang ditengarai turut berpengaruh dalam pembentukan mentalitas.
Sekolah perlu menggalakan pendidikan karakter dan moral dengan memperhatikan relasi adaptif pada perkembangan jaman yang sejalan dengan perkembangan mental anak didik. Perilaku agresif dapat dicegah sedini mungkin dengan melihat karakter, kondisi psikologis dan lingkungan sosial. Melalui pengendalian perilaku agresif yang mengedepankan pendidikan moral dan karakter. Dalam kajian antropologi psikologi terkait dengan pendidikan moral dan karakter, Suzanne Gaskins (2010) melihat bahwa produksi dan reproduksi budaya dimaknai dan dibangun berdasarkan pengalaman. Melalui penciptaan lingkungan keluarga, belajar dan sosial yang baik dan produktif dapat menjadi sarana pengembangan moral usia remaja.
Pendidikan karakter dalam sosialisasi intensif dan partisipatif tentang moral, nilai dan perilaku memerlukan tindakan nyata sebagai solusi penanganan perilaku agresif pada anak dan remaja. Sehingga untuk mempersiapkan generasi milenial menghadapi tantangan dalam era globalisasi, perlu adanya perhatian serius dari pemerintah dalam sektor pendidikan yang lebih efektif dan terukur sehingga hasilnya dapat dirasakan dan dimanfaatkan untuk kepentingan negara. Persiapan yang diberikan negara kepada generasi milenial dalam menghadapi era globalisasi adalah salah satunya dengan cara menjalankan program pendidikan karakter yang terpola dan terukur. Sudah banyak negara maju yang menjalankan program tersebut dan berhasil menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki kompetensi yang unggul. Sehingga diharapkan dengan adanya keseriusan pemerintah dalam menjalankan program pendidikan karakter ini pada sektor pendidikan, generasi milenial yang dimiliki Indonesia dapat bersaing dan memiliki kompetensi yang baik dalam menghadapi era globalisasi. Namun, perlu diingat bahwa setiap penerapan yang dilakukan haruslah sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku sehingga terjadi kesalahpahaman di masyarakat.
Komentar
Posting Komentar